Banyak Piknik Biar Gak Nyinyir

Indonesia indah dan kaya layaknya sepenggal surga yang jatuh ke  bumi.  Kekayaan alam Indonesia mendorong pengusaha dari berbagai negara datang dan menginvestasikan dananya di Indonesia.  Keindahan Indonesia mendorong wisatawan dari berbagai belahan dunia datang ke Indonesia.

Data Biro Pusat Statistik menyebutkan:

  • Jumlah kunjungan wisatawan mancanegara atau wisman ke Indonesia Februari 2018 naik 17,36 persen dibanding jumlah kunjungan pada Februari 2017, yaitu dari 1,02 juta kunjungan menjadi 1,20 juta kunjungan. Demikian juga, jika dibandingkan dengan Januari 2018, jumlah kunjungan wisman pada Februari 2018 mengalami kenaikan sebesar 9,12 persen.
  • Secara kumulatif (Januari–Februari 2018), jumlah kunjungan wisman ke Indonesia mencapai 2,30 juta kunjungan atau naik 7,99 persen dibandingkan dengan jumlah kunjungan wisman pada periode yang sama tahun 2017 yang berjumlah 2,13 juta kunjungan.
  • Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel klasifikasi bintang di Indonesia pada Februari 2018 mencapai rata-rata 56,21 persen atau naik 3,64 poin dibandingkan dengan TPK Februari 2017 yang tercatat sebesar 52,57 persen. Demikian juga, jika dibanding TPK Januari 2018, TPK hotel klasifikasi bintang pada Februari 2018 mengalami kenaikan sebesar 4,30 poin.
  • Rata-rata lama menginap tamu asing dan Indonesia pada hotel klasifikasi bintang selama Februari 2018 tercatat sebesar 1,92 hari, terjadi kenaikan 0,01 poin jika dibandingkan keadaan Februari 2017.

Di belahan dunia lain tentunya juga memiliki keindahan alam,  budaya, serta value yang juga tidak kalah indah dan memiliki keunikan tersendiri.  Kesemuanya dapat kita ketahui dan pelajari dengan cara travelling ke negara bersangkutan.  Dengan berkunjung maka kita dapat mengalami secara langsung keindahan alam, budaya serta value yang mereka miliki dan memperkaya khasanah pola pikir kita.  Setiap kebudayaan memiliki nilai kearifan yang saling melengkapi karena pada dasarnya manusia memiliki kesamaan dalam sisi humanisme.  Namun sisi humanisme tersebut terkadang terinfiltrasi oleh nilai nilai lain yang merendahkan sisi humanis yang dimiliki oleh manusia.

Dengan sering travelling baik di dalam maupun di dalam negeri, pola pikir dan sisi humanisme kita akan tumbuh menjadi relatif lebih bijak sehingga tidak mudah dan tidak cepat memberikan stigma ataupun judgement tertentu akan sesuatu yang berbeda dengan value atau pandangan yang kita miliki.  Hal ini akan mendorong kita untuk semakin memiliki toleransi dan memahami perbedaan dari pelbagai persepsi, bukan hanya dari “kacamata” dan persepsi kita sendiri.   Travelling akan menumbuhkan pemahaman bahwa Kepandaian Manusia Bersifat Relatif, namun Kebodohan Manusia Bersifat Absolut.  Salah satu ciri manusia bodoh adalah merasa diri paling benar dan paling pandai sehingga apapun yang berbeda dengan pola pikirnya dianggap salah.  Perasaan paling benar dan paling pandai ini mendorong kebiasaan nyinyir.  So…… banyakin piknik dech biar gak nyinyir.

 

Salam Solidaritas dari Nomor Urut 2

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *