Agamis versus Non Agamis

Memperhatikan pendukung Jokowi dan Prabowo, ada benang merah diantara kedua kelompok pendukung (meski tidak semua pendukung di kedua kubu memiliki karakteristik yang sama).  Tulisan ini berdasarkan pengalaman dan persepsi pribadi atas tampilan sosok manusia yang mengedepankan agama as his/her symbol in his/her own lifestyle.

Secara pribadi pengalaman naik KRL di tanggal 2 Desember lalu bersamaan dengan para alumni 212 dari Bekasi ke Juanda memberikan perspektif berharga bagaimana dan siapa mereka.  Namun tidak perlu gw umbar karena berpotensi menimbulkan konflik berbau SARA.  Sebaliknya dalam minggu ini salah seorang relawan gw bahkan gw juga mengalami “sesuatu” yang membuka mata gw bahwa di kalangan gereja juga ada oknum2 tertentu yang aktif secara organisatoris kekatolikan namun belum sepenuhnya memancarkan spirit kekatolikan dalam hidupnya.  Bahkan meski sudah gw komunikasikan dan kedepankan kepada ybs bahwa salah satu agenda Partai Solidaritas Indonesia adalah menolak Poligami dan ini tentu selaras dengan keinginan kaum wanita pada umumnya, namun yang bersangkutan tidak bergeming.

Secara pribadi gw tidak setuju mencampuradukkan politik dengan agama. Hal ini sering terlihat dari kalangan umat sebelah yang sering mempolitisir sesuatu dari perspektif agama. Di satu sisi belakangan ini di lini masa sering terlihat meme atau jokes yang memojokkan Prabowo akan kealpaan dia dalam melafalkan dan ritual agama yang dianut.  So, apa bedanya kalangan ini dengan kalangan sebelah bila kekurangmahiran Prabowo dalam melafalkan atau menjalankan ritual diangkat sebagai materi untuk memojokkan Prabowo. Teman2……. Marilah kita kesampingkan materi yang bersentuhan dengan agama dalam mendukung kandidat Presiden dan cara kita berpolitik praktis, sekaligus jangan pula materi terkait keagamaan kita gunakan untuk membully atau menjatuhkan karakter.  Mari kita sama sama memiliki mindset bahwa agama adalah urusan pribadi seseorang dengan Yang Di Atas.  Pun bila seseorang memilih untuk tidak terafiliasi ke salah satu agama, let it be as his or her own life sepanjang dia tidak menimbulkan keonaran atau merugikan pihak lain.  Jangan lagi mengapresiasi seseorang karena tampilan agamisnya, karena “casing” belum tentu selalu selaras dengan otak.

Salam dari Caleg PSI Dapil Lampung 1 Nomor Urut 2
#PSI
#CalegPSI
#PartaiSolidaritasIndonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *