Cocoklogi dalam Beriman

Sabtu pagi 9 Maret 2019 gw diajak teman untuk misa di Yayasan yang menangani anak2 berkebutuhan khusus.  Di benak gw, namanya misa ya pasti begitu2 juga, ada Romo dan misa then selesai.  Namun saat Romo M memberikan homily ada beberapa statement beliau yang mengusik keimananku.  Kenapa?  Kurang lebih statement Romo dalam homily sebagai berikut:  “Saya terlambat datang ke Yayasan Pelita Kasih karena ada halangan dalam perjalanan.  Saya tidak tahu apa yang terjadi apakah keterlambatan ini merupakan bencana atau berkah buat umat yang hadir di sini”.  Gw merasa tersentak dengan statement ini.  Kenapa?

Begini ceritanya.  Dalam rangka blusukan setiap weekend ke Lampung, gw sudah punya rencana untuk sowan ke Mgr Harun untuk minta doa restu, syukur2 mendapat dukungan meski gw tau dan sadar bahwa Gereja secara formal selalu bersikap netral dalam penyelenggaraan pemilu.  Lagipula terasa mustahil sosialisasi dan “menjual diri” ke Mgr Harun akan keikutsertaan gw sebagai Caleg DPR RI dari PSI.  Namun pagi itu gw datang ke Yayasan Pelita Kasih, tak lama berselang Mgr Harun datang dan kami bersalaman serta berbicara panjang lebar hampir 40 menit sambil menunggu kedatangan Romo M yang terlambat hadir.  Selama perbincangan 5 menit pertama gw ajak Mgr Harun ke arah pembicaraan umum mengenai latar belakang sekolah di Xaverius dan menceritakan beberapa guru yang juga guru Mgr Harun, karena kami sama sama sekolah di Xaverius Tanjung Karang meski beda angkatan jauh.  Ada kesempatan dan celah memberikan kartu nama, maka gw memberikan kartu nama.  Begitu melihat kartu nama dan tertera Albertus P Sitanggang, Mgr Harun malah berkata: “Ahhhh Sitanggang, halak hita……. Saya kira tadi Chinese”. Di situ satu poin positif gw dapat.  Yang tadinya Mgr Harun tidak kenal gw menjadi kenal.  Malah kembali gw “jualan” dengan menyebutkan ini budaya yang gw adopsi dari para professor sewaktu kuliah S3 di Turkey, dimana mereka memiliki dua kartu nama; satu kartu nama polosan tanpa gelar, dan satu lagi kartu nama dengan gelar akademik.  Gw “jualan” lebih lanjut bahwa gw memberikan kartu nama tanpa gelar karena gw dan Mgr berkenalan bukan dalam rangka civitas akademika.   Semakin dalam “jualan”  gw menyebutkan bahwa Albertus P Sitanggang juga nama yang gw cantumkan di kertas suara dalam pemilihan Caleg DPR RI April mendatang.  Disaat itu juga gw “Jualan” mengenai Partai Solidaritas Indonesia dan juga reasoning kenapa gw yang dulunya anak muda golput malah putar haluan menjadi Caleg DPR RI dari PSI, partai anak muda yang penuh integritas.

Selepas misa yang sebenarnya jauh dari ekspektasi gw, diadakan acara hiburan yang diisi oleh para guru dan murid2 disable.  Misa pagi itu adalah misa konselebran 3 Romo dengan satu Mgr, plus gw punya waktu berbincang2 secara intens dengan Mgr. Harun dalam waktu yang lumayan berharga.  Pada acara hiburan tersebut, gw memang tidak duduk dekat dengan Mgr dan Para Romo, namun di saat acara hiburan mata gw bertabrakan dengan mata Mgr yang sedang berbisik2 dengan Romo M.  Hal ini ada tiga atau empat kali terjadi secara tidak sengaja dimana Mgr berbisik2 ke Romo M.  Gw tidak tahu apa yang mereka diskusikan.  Ternyata Tuhan memberikan apa yang ada dibenak gw dengan caraNYA, sehingga gw tidak perlu sowan secara khusus ke Mgr, namun secara tidak sengaja memiliki waktu ngobrol dengan Mgr yang disediakan olehNYA dengan caraNYA yang tidak pernah gw rencanakan.

Minggu Pagi 10 Maret misa di Kedaton dipimpin oleh Romo M juga. Sebelum memulai homily, Romo M mengatakan di podium bahwa Romo harus menyampaikan pesan dari Bapak Uskup di dalam homily yang sebenarnya merevisi homily yang sudah disiapkan Romo beberapa hari lalu.  Namun karena instruksi melalui WA kepada Romo maka Romo memodifikasi materi homily agar content yang dipesankan oleh Mgr disampaikan oleh seluruh Romo di Kesukupan terkait pemilu April 2019.  Sedikit yang kocak di telinga gw adalah Romo M harus turun dari podium dan menjauh dari mike sambil berkata:  “Mgr Harun mengajak seluruh Umat Katolik untuk tidak golput pada pemilu April 2019 mendatang. Gunakan hak pilih kalian.  Kalau ada caleg dari kalangan kita baik di Kota/ Kabupaten, Provinsi terlebih caleg RI, baiklah kita pilih mereka.  Bila mereka datang ke komunitas kalian untuk sosialisasi, terimalah mereka dengan baik, karena mereka adalah bagian dari komunitas gereja.  Kita di dalam gereja tidak boleh berpolitik praktis, tapi di luar sana bila ada saudara kita yang sedang berkontestasi dalam pileg, dukung mereka”  Meski homily Romo M tidak spesifik menuju ke PSI atau gw, tapi paling tidak terasa bahwa “kulakan“ gw dalam bincang bincang selama 40 menit bersama Mgr ada yang terserap.  Entahlah….. ini sekedar cocoklogi dalam beriman atau fantasi gw yang keGRan. Wkwkwkkwkwkwkkkwk.

Salam dari Caleg PSI Dapil Lampung 1 Nomor Urut 2
#PSI
#CalegPSI
#PartaiSolidaritasIndonesia
#www.albertus-sitanggang.com

“Tukang Gergaji Kayu” di Kapal Penyebrangan

Tulisan kali ini gak ada bobot, sekedar menuangkan kejadian real yang berulang. Sejak September 2018 mostly di setiap weekend gw melakukan blusukan ke Lampung.  Untuk itu gw senantiasa menggunakan jasa kapal penyebrangan di malam hari.  Sebagian dari kapal penyebrangan ini menyediakan area lesehan sehingga penumpang bisa tiduran atau tidur beneran dari Pelabuhan Merak hingga Pelabuhan Bakauheni atau sebaliknya.  Area lesehan ini bersifat unisex sehingga siapa saja bisa lesehan dengan aturan main siapa cepat dia dapat space lesehan dan tidak memandang gender.

Bila kebetulan naik kapal sudah dalam moment penuh, gw lebih memilih nyelip lesehan diantara wanita, bukan karena sexual preference tetapi karena wanita biasanya kalo tidur gak ngorok.  Orang ngorok biasanya tidurnya cepet jadi.  Itu sebabnya meski baru merebahkan badan, sekejab kemudian terdengar suara dengkur

Dari keseringan tidur lesehan dengan berbagai orang yang tidak satupun gw kenal, secara tidak langsung gw bisa belajar mengidentifikasi mana orang yang bakalan ngorok, mana yang tidurnya adem ayem. Dalam kondisi area lesehan sudah agak padat dan tidak ada pilihan, bila ternyata orang di dekat kita ternyata ngorok, lebih bijak untuk bertahan daripada memilih hengkang dan mencari tempat lesehan lain. Kenapa?  Mendapatkan space lesehan yang lebih tenang tanpa suara ngorok belum tentu didapat, namun space lesehan yang kita tinggalkan sudah pasti dipakai orang lain.  Terkadang bila mendapatkan space lesehan yang berdekatan dengan orang ngorok strategi yang gw lakukan adalah membuat “keonaran” seperti batuk agak kenceng.  Sesekali berhasil membuat orang yang ngorok terjaga, namun tidak jarang sekejap kemudian dia terlelap lagi dan ngoroknya berlanjut.  Kadang gw terpikir untuk bunyiin petasan cabe agar semua terbangun dan kita semua start tidur dari awal lagi.  Dengan cara ini cukup fair untuk duluan duluanan terlelap.  Gw yakin, kalo gw yang duluan terlelap, penumpang lain berpotensi bisa terlelap juga karena tidak akan terganggu dengan gw yang sudah terlelap.  Kenapa?  Karena gw gak ngorok, terbukti gw terbangun karena suara ngorok dari orang lain bukan karena suara ngorok sendiri (itupun kalo gw ngorok) 😊.  Lagian gak mungkin donk Top Model terkenal di Bekasi, Babelan, Kranji, Kayuringin, Cikiwul, Ciketing Udik  tidur pake ngorok?  Apa kata dunia permodelan? 😊

Terlepas dari semua itu, gw tetap bersyukur bila dapat space lesehan meski ada yang ngorok.  Kenapa? Karena gw mengalami gangguan ini sebatas rentang waktu 2 hingga 3 jam di kapal.  Gak terbayang betapa tersiksanya jadi istri dari orang yang ngorok tersebut. Seumur hidupnya harus mendengar suara dengkuran yang bergemuruh seperti suara orang menggergaji kayu.

Salam dari Caleg PSI Dapil Lampung 1 Nomor Urut 2
#PSI
#CalegPSI
#PartaiSolidaritasIndonesia
#www.albertus-sitanggang.com

Please Pay Attention to Integrity, Character, Capacity and Competency

BTP alias Ahok bebas merupakan kabar gembira buat kalangan tertentu yang memang menjunjung tinggi integritas seorang BTP.  Pemberitaan yang ada di media terkesan jauh panggang dari api.  Secara pribadi gw melihat media, pendukung, dan oposan seolah memiliki “hak” untuk menyentuh privacy BTP.  Kenapa?  Tidak lain terkait dengan status BTP yang saat ini adalah “single”.  Pemberitaan mengenai rencana BTP menikahi seseorang yang beda agama, pemberitaan si wanita ikut agama BTP, dugaan BTP akan pindah agama sesuai agama si wanita, seolah terlihat seperti lalat hijau yang berseliweran riuh rendah menjijikkan.

Tidak bisakah kita (media, pendukung, oposan) memberikan waktu sejenak bagi BTP menikmati me time dengan menghirup udara segar tanpa diganggu dengan lalat hijau yang berseliweran?  Pilihan untuk menikah atau stay single, atau BTP stay dengan pilihan agamanya, atau BTP berpindah agama, atau si wanita pindah agama mengikuti agama yang dianut BTP, pun seandainya mereka memilih untuk menikah dengan tetap stay di agama masing masing, sebenarnya merupakan wilayah privacy yang tidak perlu kita sentuh.  Biarkan BTP menentukan pilihan hidupnya.  Sebagai public figure, tentu kita bisa membahas berita bebas BTP dari sisi integritasnya, karakternya, kapasitasnya, dan kompetensi yang melekat dan menjadi satu paket dalam diri seorang BTP.   Pembahasan mengenai integritas, karakater, kapasitas, dan kompetensi seseorang merupakan bagian dari edukasi mengenai Character Building yang memang sangat diperlukan oleh Indonesia.  Terlebih dengan maraknya berita hoax dan issue negative yang cenderung mendegradasi value seseorang, bukanlah lingkungan yang baik bagi pertumbuhan demokrasi di Indonesia.

Lingkungan makro secara akumulatif mempengaruhi kebiasaan dan karakter seseorang.  Generasi muda yang terbiasa dengan berita hoax serta issue negative berpotensi memiliki integritas yang rendah, tidak berkarakter, serta memiliki kompetensi dan kapasitas yang rendah.  Menilai sesorang dari tampilan dan agama justru merendahkan hakikat kemanusiaan dan agama itu sendiri.  Berbuat baiklah karena tanggung jawab kita kepada kehidupan kita.  Beribadahlah karena tanggungjawab kita kepada kehidupan kita. Bertanggungjawab penuh terhadap kehidupan kita sendiri.

 

Salam dari Caleg PSI Dapil Lampung 1 Nomor Urut 2
#PSI
#CalegPSI
#PartaiSolidaritasIndonesia

Istana Beri Penjelasan soal Isu Viral Jokowi Resmikan Patung Yesus

Salah satu headline hari ini, Jumat 28 Desember 2018 di detik.com dengan judul di atas membuat dahi gw berkernyit.  Apa pentingnya peristiwa Jokowi resmikan patung Yesus menjadi isu viral?  Lagipula setelah membaca detil berita tersebut bahwasannya Jokowi belum meresmikan patung tersebut karena bangunan belum selesai 100%.  Pun seandainya selesai 100% dan benar akan diresmikan Jokowi, masih perlukah diperdebatkan atau dijadikan isu viral peresmian tersebut?  Berikut beberapa pemikiran yang timbul di benak gw akan pemberitaan peresmian tersebut:

  1. Sering gw melihat prasasti bangunan, baik gereja ataupun bangunan biara, dimana prasasti peresmiannya ditandantangani oleh Walikota, Bupati, Gubernur, atau Presiden. So, apa bedanya bila Jokowi meresmikan Patung Yesus di Makale, Tana Toraja tersebut?
  2. Peresmian dilakukan oleh pejabat pemerintah, baik Pemda setempat ataupun sekaliber Presiden dimaksudkan untuk menghargai Pemda setempat atau Presiden selaku Pejabat Pemerintah, sekaligus menunjukkan bahwa bangunan tersebut resmi dan siap digunakan

Dengan dua pemikiran yang simple tersebut, lantas mengapa aktivitas peresmian tersebut dijadikan isu viral?  Masih banyak persitiwa lain yang perlu diberitakan dan dijadikan viral guna mendapat perhatian dan penanganan serius oleh Pemerintah dan masyarakat.  Lagipula dengan meresmikan (termasuk menandatangani prasasti peresmian) apakah Pejabat penandatangan otomatis menjadi keluar dari agama yang dianut dan beralih ke agama lain?   Come on……….. para penandatangan prasasti peresmian tersebut sedang menjalankan peran mereka sebagai perwakilan pemerintah, bukan sedang menjalan peran individu sebagai pemeluk agama.

Lantas apa makna yang berbeda dari kedua event dalam foto di bawah ini.  Mari lebih dewasa dan bijak dalam menyikapi peran individu dalam bernegara dan peran dalam beragama.  Mari gunakan energi kita untuk hal yang lebih konstruktif.  Selamat menyambut tahun baru 2019.

Salam dari Caleg PSI Dapil Lampung 1 Nomor Urut 2
#PSI
#CalegPSI
#PartaiSolidaritasIndonesia

UCAPAN SELAMAT HARI RAYA NATAL

Masih jelas terbayang di benak, berhubung gw anak bungsu, dulu waktu kecil gw yang biasa disuruh2 nganter rantang lurik 4 susun berisikan makanan dan kue2 ke tetangga yang beragama moslem di setiap hari raya Natal. Sebaliknya, di hari raya Idul Fitri, gw yang biasa duduk manis di teras menantikan hantaran dari tetangga. Wkwkwkwkkwkwk. It was a great moment dan rasanya semakin memudar dewasa ini.

Di era digital ini, teman2 moslem yang cukup moderat akhirnya mengirimkan ucapan Selamat Natal secara japri bukan di grup karena maraknya himbauan HARAM mengucapkan selamat natal bagi yang merayakan. Well, di satu sisi gw sangat appreciate akan tindakan bijak teman2 yang mengirimkan ucapan natal secara japri seperti ini, karena ybs tidak ingin menimbulkan riak gemuruh pertemanan di grup pertemanan yang di dominasi oleh teman2 yang menganut fatwa haram mengucapkan selamat natal. Namun ada juga yang teman moslem yang cukup transparan dengan mengucapkan Selamat Natal di timeline di wall masing2. Di sisi lain, gw juga membaca postingan bernada “manja” kalau tidak mau disebut mengeluhkan dari teman2 kristiani yang mempertanyakan fatwa haram mengucapkan selamat natal dari teman2 yang beraga moslem. Melihat hal ini secara pribadi gw terpikir jalan tengah sebagai berikut:
1. Buat teman2 Kristiani, yukkkk kita ucapkan terimakasih kepada teman2 non kristiani yang moderat dan transparan yang memberikan ucapan selamat natal
2. Buat teman2 Kristiani yang rada2 manja dan mellow, mari kita kikis mindset bahwa teman2 dari agama lain perlu dan harus mengucapkan selamat natal untuk kita. Mari tanamkan di benak kita, ada atau tidak ada ucapan selamat natal dari teman2 beragama lain, tidak mengurangi kegembiraan kita dalam merayakan natal. Kita juga perlu menghargai prinsip yang mereka anut karena tanpa ucapan selamat natal dari mereka, bukan berarti the end of the world dan Natal jadi batal.
3. Buat teman non kristiani yang moderat ataupun yang secara transparan mengucapkan selamat Natal, gw pribadi berterimakasih dan berharap mindset seperti ini tetap ada dan pertemanan kita tidak terkotak2 dari sisi agama.
4. Buat teman non kristiani yang memegang fatwa haram mengucapkan selamat natal kepada umat kristiani, yukkkk berikan kebebasan teman2 non kristiani untuk melakukan sesuatu yang menurut mereka nyaman dalam memberikan ucapan atau tidak. Tidaklah perlu mempengaruhi mereka dengan segala macam dalil dan iming2 keselamatan atau kaplingan surga akan hilang bagi mereka yang mengucapkan selamat natal.

So, dengan keempat point tersebut rasanya tidak perlu lagi ada perdebatan mengenai ucapan natal saat perayaan natal seperti ini. Mari kita gunakan energi kita ke hal2 yang lebih besar daripada hanya memperdebatkan boleh atau tidak boleh mengucapkan natal. Malu donk dengan negara lain yang sudah memikirkan kaplingan di planet lain sementara kita masih berkutat di kaplingan surga yang kita sendiri juga belum pernah merasakan surga tersebut. Surga sebenarnya ya di bumi ini di mana kita bisa harmonis satu sama lain meski kita berbeda pandangan politis, value, ras, agama, bahkan pilihan hidup.

The last but not the least, bagi yg sangat2 extrim dan masih berusaha mempengaruhi value ke orang lain, gw tetap membawa mereka dalam doa. Semoga kalangan ini segera mencapai surga yg diimpikannya. Bila perlu selepas membaca postingan ini 

Salam dari Caleg PSI Dapil Lampung 1 Nomor Urut 2
#PSI
#CalegPSI
#PartaiSolidaritasIndonesia

Agamis versus Non Agamis

Memperhatikan pendukung Jokowi dan Prabowo, ada benang merah diantara kedua kelompok pendukung (meski tidak semua pendukung di kedua kubu memiliki karakteristik yang sama).  Tulisan ini berdasarkan pengalaman dan persepsi pribadi atas tampilan sosok manusia yang mengedepankan agama as his/her symbol in his/her own lifestyle.

Secara pribadi pengalaman naik KRL di tanggal 2 Desember lalu bersamaan dengan para alumni 212 dari Bekasi ke Juanda memberikan perspektif berharga bagaimana dan siapa mereka.  Namun tidak perlu gw umbar karena berpotensi menimbulkan konflik berbau SARA.  Sebaliknya dalam minggu ini salah seorang relawan gw bahkan gw juga mengalami “sesuatu” yang membuka mata gw bahwa di kalangan gereja juga ada oknum2 tertentu yang aktif secara organisatoris kekatolikan namun belum sepenuhnya memancarkan spirit kekatolikan dalam hidupnya.  Bahkan meski sudah gw komunikasikan dan kedepankan kepada ybs bahwa salah satu agenda Partai Solidaritas Indonesia adalah menolak Poligami dan ini tentu selaras dengan keinginan kaum wanita pada umumnya, namun yang bersangkutan tidak bergeming.

Secara pribadi gw tidak setuju mencampuradukkan politik dengan agama. Hal ini sering terlihat dari kalangan umat sebelah yang sering mempolitisir sesuatu dari perspektif agama. Di satu sisi belakangan ini di lini masa sering terlihat meme atau jokes yang memojokkan Prabowo akan kealpaan dia dalam melafalkan dan ritual agama yang dianut.  So, apa bedanya kalangan ini dengan kalangan sebelah bila kekurangmahiran Prabowo dalam melafalkan atau menjalankan ritual diangkat sebagai materi untuk memojokkan Prabowo. Teman2……. Marilah kita kesampingkan materi yang bersentuhan dengan agama dalam mendukung kandidat Presiden dan cara kita berpolitik praktis, sekaligus jangan pula materi terkait keagamaan kita gunakan untuk membully atau menjatuhkan karakter.  Mari kita sama sama memiliki mindset bahwa agama adalah urusan pribadi seseorang dengan Yang Di Atas.  Pun bila seseorang memilih untuk tidak terafiliasi ke salah satu agama, let it be as his or her own life sepanjang dia tidak menimbulkan keonaran atau merugikan pihak lain.  Jangan lagi mengapresiasi seseorang karena tampilan agamisnya, karena “casing” belum tentu selalu selaras dengan otak.

Salam dari Caleg PSI Dapil Lampung 1 Nomor Urut 2
#PSI
#CalegPSI
#PartaiSolidaritasIndonesia

Pendidikan Politik

Setelah beberapa kali turun ke beberapa lokasi di 4 Kabupaten dan 1 Kotamadya terdapat gambaran bahwasannya ada beberapa harapan dari Masyarakat yang hadir dalam sosialisasi guna mendapatkan Pendidikan Politik. Sekali lagi gw menyebut PENDIDIKAN POLITIK bukan KAMPANYE. Kenapa? Karena ternyata masih banyak ditemui masyarakat yang berkenan memilih bukan karena hanya amplop. Hal ini jelas merupakan sebongkah harapan bagi PSI untuk meraih suara dari masyarakat yang memang menginginkan perubahan ke arah Indonesia yang lebih baik. Beberapa harapan masyarakat yang hadir saat gw berikan Pendidikan politik antara lain:
1. Gw tetap menyapa mereka alias tidak lupa dengan mereka apabila sudah duduk di Legislatif
2. Gw tetap konsisten untuk mengangkat program yang gw sampaikan dalam sosialisasi
3. Gw tidak korup sebagaimana para wakil rakyat yang saat ini banyak diberitakan oleh media massa
4. Gw tetap aktif di Parlemen dan tidak sering membolos dari agenda meeting seperti banyak mereka lihat dari media
5. Mereka meminta gw untuk membangun A, B, C, atau memberikan bantuan D, E, F saat gw sudah duduk di Dewan
6. DLL

Nach….. dari ke-6 point tersebut, rasanya harapan 1 s/d 4 bisa dan harus gw lakukan sebagai bentuk imbal balik atas dukungan mereka. Namun untuk nomor 5 adalah dampak kampanye dari para caleg terdahulu yang telah dan masih duduk di dewan. Kenapa? Ternyata dari penuturan masyarakat mereka kerap dijanjikan oleh caleg yang kampanye untuk dibangunkan ini dan itu serta dijanjikan untuk diberikan ini dan itu. Jelas ini merupakan pembodohan yang dilakukan oleh caleg terdahulu serta merupakan bentuk menghalalkakn segala cara demi meraup suara selain pemberian amplop dan serangan fajar di muka.

Sebagaimana kita ketahui, berdasarkan UU, ada 3 lembaga di Indonesia yaitu Eksekutif, Legislatif, dan Yudikatif. Perlu kita ketahui membangun A, B, C, ini dan itu serta memberikan bantuan dalam bentuk natura ini dan itu merupakan peran Eksekutif. Peran dan tugas Legislatif adalah membuat UU dan peraturan serta mengawasi jalannya roda pemerintahan yang dilakukan oleh Eksekutif dan Yudikatif.

Namun dengan penjelasan secara logis dan menggunakan Bahasa sederhana (terkadang gw kelepasan menggunakan high vocabularies), masyarakat yang hadir bisa mengerti dan memahami apa yang gw sampaikan. Dalam hal ini gw mengarahkan mereka untuk mengeliminir harapan di point ke lima dilakukan oleh caleg yang mereka pilih. Satu hal yang gw syukuri dalam melakukan Pendidikan Politik hingga hari ini adalah bahwasannya gw berbicara di hadapan masyarakat yang secara etnis dan religi berbeda dari gw, namun mereka menerima kehadiran dan penjelasan gw dengan baik. Meski sesekali memang perlu penterjemah dari Bahasa Daerah ke Bahasa Indonesia yang dilakukan oleh tandem dari caleg daerah. Sebagian masyarakat merasa lebih afdol bila menyampaikan uneg2 dalam Bahasa Daerah yang selanjutnya diterjemahkan oleh tandem caleg dalam Bahasa Indonesia. Selanjutnya gw menjelaskan dalam Bahasa Indonesia, karena mereka mengerti Bahasa Indonesia. Hal ini menjadi sinyal positif bahwasannya masyarakat kita masih memiliki konsep Bhinneka Tunggal Ika. HIDUP INDONESIA……

Salam dari Caleg PSI Dapil Lampung 1 Nomor Urut 2
#PSI
#CalegPSI
#PartaiSolidaritasIndonesia

JOKOWI CURANG

Belakangan ini gw berangkat kantor menggunakan Royal Trans, angkutan umum sebagai bagian mendukung gerakan pemerintah mengurangi kemacetan belantara Jakarta.  Dalam perjalanan tanpa sadar gw melihat betapa sepanjang perjalanan dari Bekasi hingga kantor di area Jakarta Selatan terlihat pembangunan konstruksi yang masif dan marak.  Pekerjaan bukan hanya dilakukan pada pagi hingga sore hari, namun saat perjalanan pulang di malam hari juga terlihat para pekerja konstruksi bekerja.  Hal ini terlihat sejak 2014.  Saat menggunakan KRLpun gw melihat beberapa stasiun diperbesar, dibenahi dan ada tambahan bangunan serta fasilitas terkait KRL

Berkaca dari pengalaman kampanye capres dan caleg belakangan ini, terlihat bahwa capres dan mostly caleg mengerahkan tim sukses dengan menggunakan Alat Peraga Kampanye seperti baliho, spanduk, kalende, stiker, kartu nama dan lain lain.  Itupun dilakukan baru baru ini setelah ditetapkannya pasangan Capres dan Cawapres serta Daftar Caleg Tetap oleh KPU.   Namun satu hal yang gw lihat dari Jokowi,  Sungguh Capres petahana ini sebenarnya curang.  Kenapa gw katakan curang?  Jokowi sudah kampanye sejak 2014 dengan cara memperlihatkan pekerjaan-pekerjaan konstruksi di mana-mana.  Teringat saat kunjungan kerja ke Papua beberapa bulan lalu, gw dengan mata kepala sendiri melihat beberapa pembangunan konstruksi seperti Jembatan Holtkamp yang biasa dikenal dengan jembatan merah di teluk Youtefa serta stadion baru di Sentani.  Gw tidak akan menjabarkan hal hal lain yang diberitakan oleh media masa dan dishare di medsos.  Gw menyampaikan apa yang gw saksikan dan gw lihat sendiri.  Bagi yang berkutat di seputaran jabodetabek tentunya melihat dan merasakan kemacetan yang makin parah dengan adanya pembangunan konstruksi di banyak tempat terlebih dengan adanya pembangunan MRT.  Dengan cara ini tidak heran bila Jokowi tidak perlu lagi spanduk, baliho, apalagi kalender dan stiker,  karena masyarakat bisa melihat sendiri ulah kecurangan Jokowi melalui pembangunan infrasturktur yang ada.

So….. dengan cara ini silahkan pembaca memilah dan menimbang nimbang sendiri.  Pilih Jokowi yang curang curi start kampanye sejak 2014 dengan segala kelakuannya melalui berbagai konstruksi yang masif dan marak dimana mana, atau memilih capres lain yang sibuk dengan jargon dan statement statement mengerikan, belum lagi ditambah bani lenong disekitarnya yang rajin dan riuh menebar hoax

Salam dari Caleg PSI Dapil Lampung 1 Nomor Urut 2
#PSI
#CalegPSI
#PartaiSolidaritasIndonesia
www.albertus-sitanggang.com

 

Dana Kampanye Pemilu 2019

Harian Merdeka edisi 17 Oktober 2018 memberitakan dana kampanye dengan judul “KPU lapor dana kampanye parpol ke DPR, PSI paling besar Rp 185 miliar“.  Sebagai caleg PSI kening gw sedikit berkernyit, really?  Bagaimana mungkin partai yang baru sumur jagung berada di posisi teratas dana kampanye.  Partai2 terdahulu yang telah settle melaporkan dana kampanye berapa?  Ditambah lagi ada nada sangsi dari partai lain yang mensinyalir PSI tidak transparan dalam mendapatkan dana 185 milyar untuk dana kampanye.  Is it logic? Setelah memperhatikan detil pemberitaan tersebut berikut gambaran dana kampanye setiap partai pemilu 2019 (copy paste, meski ada pengulangan PAN):

1. PDI Perjuangan Rp 101,8 miliar

2. Partai Gerindra Rp 71,8 miliar

3. Golkar Rp 110 juta

4. Demokrat Rp 299,8 juta

5. NasDem Rp 505 juta

6. PKS Rp 12 miliar

7. PKB Rp 1,3 miliar

8. PPP Rp 410 juta

9. PAN Rp 50 juta

10. PBB Rp 16 miliar

11. PKPI Rp 255 juta

12. PAN Rp 50 juta

13. Perindo Rp 510 juta

14. PSI Rp 185 mil

Di berita tersebut dituliskan seluruh peserta pemilu 2019 harus menyerahkan laporan awal dana kampanye kepada KPU sebelum tanggal 23 September 2018. Peserta pemilu yang dimaksud adalah pasangan calon presiden-wakil presiden dan partai politik yang ikut serta dalam pemilu legislatif 2019 di semua tingkatan.

Baiklah……. mari kita catat. SEMUA TINGKATAN.  Dahi gw malah semakin berkernyit.  Kali ini kernyitan di dahi bukan mengarah ke PSI, melainkan ke Partai yang melaporkan dana di bawah 1 milyar rupiah.  Bagaimana mungkin dengan dana di bawah 1 milyar bisa berkampanye untuk semua tingkatan seluruh Indonesia.

Mari kita lebih cerdas untuk mebaca berita tersebut dan menilai Partai mana yang logic dan transparan dalam melaporkan dana kampanye, mana yang alakadarnya, mana yang memberikan laporan sampah ke KPU.

#PSI
#CalegPSI
#PartaiSolidaritasIndonesia
www.albertus-sitanggang.com

Generasi Millenial

Presiden Soekarno pernah berkata: ” Beri aku 10 pemuda niscaya akan kuguncang Dunia“.

Generasi Millenial adalah generasi yang smart, energic, progressif, dan spontan.  Generasi millenial di usianya saat ini ibarat gunung berapi aktif yang siap memuntahkan lahar dan memberikan kesuburan tanah dari  hempasan abu vulkaniknya, dan disisi lain berpotensi menimpulkan guncangan dahsyat berupa gempa.  Gempa dahsyat dan hujan abu berpotensi memusnahkan kehidupan disekitarnya namun memberikan kehidupan baru yang lebih baik.

Demikian halnya sepuluh Pemuda dari Lampung Barat yang membentuk WA Grup dengan nama Tim 11 DPR RI.  Mereka adalah pemuda pemudi kreatif, penuh spirit, berintegritas serta berkemauan membangun Indonesia pada umumnya dan Lampung pada khususnya dengan bergabung menjadi relawan guna mendukung gw menuju Senayan.  Jujur, gw belum pernah bertemu mereka, dan baru beberapa kali berhubungan via medsos dengan salah satu atau salah dua diantara member grup WA tersebut.  Bahkan gw belum pernah terjun ke daerah mereka melakukan sosialisasi.  Namun dengan penuh inisiatif mereka membentuk grup WA sehingga gw bisa merasakan kesungguhan dan semangat mereka melakukan gerakan untuk perubahan. Gw harus menjaga momentum ini dan mengembangkan semangat mereka untuk berkarya lebih besar.  Gw yakin, mereka punya tujuan dahsyat, bukan hanya untuk gw, tapi untuk Indonesia yang lebih baik.

Hi guys…….. kalau jaman dulu pemuda bergerak bersama mengusir penjajah, kini saatnya kita bergerak bersama untuk bisa masuk ke Legislatif baik di pusat maupun di daerah.  Saatnya kita berkontribusi nyata membersihkan Legislatif dari Dewan yang tidak produktif, tidak berpihak pada rakyat, hedon, dan mementingkan diri serta kelompoknya saja. Saatnya kita berjuang bersama menuju kursi legislatif dan menjadi Dewan yang produktif, berpihak kepada rakyat, melayani, dan mengutamakan kepentingan Bangsa.

Salam Solidaritas dari Nomor Urut 2 Dapil Lampung 1

#PSI
#CalegPSI
#PartaiSolidaritasIndonesia
www.albertus-sitanggang.com